Sabtu, 19 November 2011

Sosok Itu..

SOSOK ITU ???!!!





“Srrrrrk…..sssrrrrk….!”
          Tiba-tiba ada bunyi gesekan diluar sana. Mataku tak bisa terpejam. Malam itu begitu hening tidak seperti biasanya. Aku pikir bunyi tadi itu Cuma angin yang menyapu dedaunan di taman rumah yang tepat berada disamping kamarku.
          Ya Tuhan . . .malam itu benar-benar dingin. Angin dari luar yang masuk ventilasi kamarku seakan menusuk persendian tulangku.
          “Ktreek…ktreek….BRAK !!”
          Bunyi apa itu ? terdengar jelas sekali didekat jendela.
          Diam-diam aku beranjak dari tempat tidur, dan menghampiri jendela.
          “Apa jendela-nya lupa aku tutup yach tadi sore . . .” aku mulai bertanya-tanya dalam hati.
          Aku merasa ragu untuk membuka gorden. Perasaan takut malah sedikit-sedikit memuncak. Jantungku berdegup tak karuan.
          “Tapi kalau iya tidak aku tutup . . .aku harus menutupnya, kalau tidak bisa berbahaya !” kataku.
          Aku memaksakan diri untuk membuka gorden, “Sreeek……” jendela kamarku itu ternyata memang belum ditutup.
          “hmh….aku memang ceroboh !” gumamku sambil menutup jendela. Tapi sekilas mataku menangkap bayang hitam diluar sana. Aku terperanjat kaget. Apa mungkin itu perampok….Aku mulai bergemetar. Tubuhku kaku sambil menatap sosok itu. Tubuhnya aneh . . .begitu tegap, besar. Matanya . . .matanya seperti sinar merah menyala. Aku tak bisa melihat mukanya. Aku mulai penasaran. Aku harus tahu . . .!
Aku mulai melangkahkan kakiku menuju pintu, “Klek !” pintu kamarku kubuka pelan-pelan. Aku mulai keluar kamar dan melewati ruang TV, setelah sampai diruang tamu, aku mengintip keluar lewat jendela menyakinkan lagi apa benar ada orang diluar. Mataku menyelidik, dan masih menangkap sosok tadi.
          “Siapa itu….?” Aku mengernyit dahi. Hatiku mulai bergelut, “Buka….jangan, buka….jangan.” aku benar-benar ragu. akhirnya kubuka pintu itu. Aku keluar dari rumahku dan berjalan ditengah taman. Namun aneh, sosok itu tidak ada. Hilang entah kemana. Ditaman itu hanya ada aku saja.
“Sosok itu kemana yach ? kok hilang ?” gumamku,”Duh….jangan-jangan beneran perampok !”
Bulu kudukku tiba-tiba tegang. Badanku terasa dingin. Dan parahnya serasa ada yang meraba bahu kananku. Aku menoleh kebelakang dan betapa kagetnya aku karena sosok gelap hitam tepat berada tepat di depan mataku.
“KyAAAA !!!” Aku menjerit histeris. Tubuhku serasa mati total. Aku tak sanggup bergerak sedikitpun. “Hantu….mo..mo…mon..ster…atau ….sss…se…setan !” ucapku terbata-bata. kukunya yang runcing tajam hendak mencakarku namun aku bisa menghindar dari cengkramannya.aku hendak berlari tapi jatuh seketika. Kemudian sosok itu menggenggam kakiku dengan erat. Aku tak sanggup menghindarinya sekarang. Aku benar-benar terperangkap olehnya. Senyum sinis menghiasi wajahnya. Bibirnya bergerak seolah bergumam mengucapkan sesuatu. Ternyata tangan kirinya sudah memegang sebilah pisau yang hendak dia tusuk padaku. Akupun menjerit histeris.
 “Tolong !!!!” jeritku, berharap ada seseorang datang untuk menyelamatkanku. Aku benar-benar pasrah. Seluruh tenagaku habis terkuras untuk melawan makhluk seram itu.
          “Kamu mau apa dari aku ? kalau mau harta ambil aja sana ! tapi jangan ambil nyawaku !”
Aku pasrah. Aku ingin menangis. Jika memang aku harus mati sekarang, aku rela. Mungkin ini jalan yang baik yang diberikan tuhan untukku. Meskipun mati dengan mengenaskan oleh cengkraman Makhluk besar itu.
          Pisau-pun melayang menuju perutku. Aku menjerit dan memejamkan mataku.
          “Akhh ….!!! Kalau bisa, aku tidak mau mati dulu ! aku ingin hidup ! cita-citaku belum kecapai !” teriakku mengeluh. Tanganku dipegang erat…..erat sekali…… pipiku serasa ditepuk-tepuk……dan kakiku serasa dielus-elus ???
          “Aku tidak mau mati !”
          “Siapa yang mati ?, ayo bangun ! istigfhar !” teriak ibu yang terus menepuk pipiku dengan penuh khawatir.
          pancaran cahaya tertangkap oleh kornea mataku. Kicauan burung terdengar merdu diujung telingaku. Suasana hening. Kulihat ibu dan kakak perempuanku sudah berada disampingku. Aku bangun dan menatap heran mereka.
          “Loh….kok pada kumpul ? makhluk tadi mana ?” tanyaku sambil terkantuk-kantuk.
          “Kamu tu gimana, udah pagi masih tidur. Udah mimpi . . .ngigau lagi !” ujar Kakak perempuanku masih mengelus-elus kedua kakiku.
          “Mimpi apaan sich ? mimpi kamu mati ?” ledek ibu sambil tertawa.
          “Mimpi….???” Aku terbengong. “Jadi tadi aku mimpi ?”
          “Nggak kok yang tadi itu nyata ! he…he…he….Ya….mimpi lah !” jawab kakak ikut meledekiku, “makannya kalau tidur mesti baca doa dulu !”
          Aku hanya tersenyum malu. Ternyata kejadian itu hanya ada dalam mimpi. Untung Cuma mimpi. Kalau kenyataan, ya…ampun….bisa-bisa besoknya akan tercetak dikoran bahwa seorang gadis manis meninggal karena cengkraman makhluk yang ganas !
          Akupun lega. Setelah ibu dan kakak keluar dari kamar, aku menatap diriku sendiri didepan kaca. Aku tersenyum sendiri.
          “Mimpi . . .” gumamku, “Dasar mimpi . . . .!”Compose

***
         

0 komentar:

Poskan Komentar