Sabtu, 19 November 2011

Trim's LARA


 Trim's LARA





“ Anak-anak, hari ini kita kedatangan murid baru. Dia pindahan dari Jakarta, ayo Lia “ ujar Bu Dewi, “ hai semua , nama saya Delia Oktaviani kalian boleh panggil saya Lia, saya berharap bisa menjadi teman yang baik untuk kalian ” kata Delia agak gugup.
                                                     
                                                                        ***
“Delia !!!“ sapa Lara. “Lara ??? kamu sekolah disini ?“ tanya Delia . “Iya Del, gak nyangka yah kalau kita bisa ketemu lagi !“,“Ya, aku seneng banget bisa ketemu kamu lagi !“ Ujar Lia. Lara adalah temannya semenjak SD dulu. Sambil berjalan mereka berbincang bersama. “Del, kenapa kamu pindah ke sini ?“ tanya lara. “Aku pindah kesini  karena Ayahku pindah kerja kedaerah ini” jelasnya.”Terus rumah kamu sekarang dimana ? “,“Deket kok dari sini, kalo kamu mau, nanti pulang kamu mampir dulu aja ke rumahku, gimana ?” ajaknya.“Ok dech !” Lara mengangguk
                                                                        ***
Delia menuangkan air kedalam sebuah gelas. ”Diminum airnya Ra !“ kata Delia “Thank’s ya“ kata Lara seraya mengambil segelas air itu dan meminumnya.. “Besar juga rumahnya“ gumam Lara. “Del, kapan kamu pindah kesini ?“ Tanya Lara “Mm . . .  Tiga hari yang lalu“ jawabnya, Lara mengangguk sambil melihat kanan kiri.
***
            Keesokan harinya disekolah,bel pulang sudah berbunyi. Delia langsung lari keluar kelas sambil menyandang ranselnya .
“Pulang! Asyik! Rasanya pusing betul hari ini “
            Didepan pintu gerbang sekolah, Lara sudah menunggu bersama salah satu temannya. “Eh Del, kenalin nih temen aku !” ujar Lara, “Hai aku Jessica !” “Delia !” mereka bersalaman. “Ya udah dech kita pulang barengan yuk !” ajak Delia sambil meraih tangan mereka.
Pikiran Lara penuh angan. Sajian makanan di meja makan yang ditutup dengan tudung saji dan ditemani dengan segelas teh manis yang begitu dingin.
“Asyik!“ gumam Lara.“Mikirin apa sich ? Senyum sendiri, bilang asyik segala lagi !“ “Mm mau tau aja !“ Delia menggeleng- geleng kepala melihat tingkah laku Lara yang penuh angan. “Sikap kamu masih sama kayak dulu di SD“ kata Delia,Lara tersenyum malu “Ah… kamu bisa aja !” “Jadi dulu kalian temenan di SD ?” tanya Jessica.“Ya, tapi pas aku mau naik kls 6 aku pindah ikut Ayah ke Jakarta !” jelas Lia. “Dan sekarang kalian ketemu lagi gitu !” tambah Jessica.“Oh iya ! kamu ikutan OSIS baru gak Del?” tanya Lara “Iya Ra, aku kepilih “jawab Lia “Sama dong !“ “Kalian beruntung kepilih jadi anggota OSIS !” gumam Jessica sedih.“Lho emang kamu nggak ikutan Jess ?” tanya Lia,“Nggak aku gak kepilih, padahal aku mau banget !” gumamnya.“Akh, udah dech ! yang penting kita tetep temenan, walaupun kamu nggak ikut jadi anggota OSIS tapi kamu tetep temen kita iya gak Del ?” tanya Lara, Delia hanya tersenyum dan mengangguk.
Setelah sampai didepan rumah Delia.
“Mau mampir gak ?“ ajaknya.“Makasih, aku mau langsung pulang aja, biasa . . . aku harus belajar !” ujar Lara “Rajin bener !” puji Delia “Harus dong !” jawab Lara  “Jess, mampir dulu gak ?” ajak Delia pada Jessica, “sorry dech aku mau ke toko buku dulu !” “Ya udah aku duluan, dah !”, “Dah juga” Larapun melanjutkan jalannya kembali bersama Jessica. Delia membuka pintu depan rumahnya.  “Assalamu’alaikum. . .” sapa Delia . Ibu deliapun menyambut Delia. “Wa’alaikumsalam. . .”, “Mama !” Ia langsung bersalaman pada ibunya. “Gimana belajarnya, susah ?” tanya ibu lembut “Ya . . . gitu dech !” jawab Delia sambil meneguk segelas air putih “Ma, Lia kepilih jadi calon anggota OSIS, katanya sich pelantikannya seminggu lagi, kegiatannya berlangsung selama 5 hari. Tiga hari dari pagi sampai sore dan yang terakhir nginep disekolah boleh kan ma ?”, “Ya silahkan aja selama itu masih kegiatan yang positif, tapi kamu harus hati-hati Del !”.
                                                                        ***
            Seminggu-pun berlalu. Delia bersiap-siap untuk berangkat kesekolah
“Del, udah sarapan ?” tanya Ibu Delia “Udah, ma!” jawabnya. “Persiapan yang harus kamu bawa, udah dimasukin kedalam Ransel ?”, “Udah ma, semuanya udah beres tinggal nunggu Lara”, “Jaga kondisimu disana !” ujar sang Ibu, Delia hanya mengangguk sambil celingukan menunggu sobatnya.
Tak lama kemudian Lara-pun tiba dirumah Delia,
“Hei Del, siap berangkat ?” ajak Lara “Udah siap dari tadi kok!” Serunya. Merekapun berangkat dengan menyandang ransel masing-masing.
***
Sore hari Delia sudah berada dirumah.
“Del, sudah pulang rupanya” sapa papa “Papa ? tumben sore hari udah pulang, biasanya kan papa sering pulang larut malam. Ada apa pa ?” tanya Delia heran “Del, kita harus ke surabaya sekarang, nenek. . . meninggal” jawab papa dengan hati-hati.
            Delia langsung terkejut mendengarnya. Ia tidak menyangka nenek yang ia sayangi sudah tiada.
“Tidak !!! itu tidak mungkin. . .” gumam Delia sambil menangis tidak berdaya “sudahlah Del kita pergi sekarang, ibumu sudah berada di surabaya menunggu kita” “Tapi Pa, Delia kan sedang pelantikan!”, “Telepon saja temanmu bilang kamu izin ada urusan mendadak”. Delia langsung mengangkat gagang telepon. Menekan nomor telepon Lara. “Hallo !” sapa Lara “Hallo, Ra ini aku Lia. Besok aku gak bisa kesekolah”, “Kenapa Del ?” tanya Lara “Aku ada urusan mendadak, please ya. . .” “Ya udah, nanti aku bilang ke seniornya” kata Lara “Makasih ya , dah. . .” Delia menutup gagang teleponnya kembali.
                                                                        ***
             Hari ketiga palaksanaan OSIS baru , suasana disekolah begitu ramai di malam hari anggota osis lama melantik calon OSIS baru.
“Ayo baris yang benar !!”, teriak kak Ardi, anggota OSIS lama “Cepat!, “Ada yang tidak mengikuti pelantikan hari ini ?” tanya kak Nita “Ada kak!” ujar Lara “Siapa ?” tanya kak Nita “Delia, Delia Oktaviani” jawab Lara “Kenapa dengan Delia, anak baru itu ?” kata kak Nita dengan raut wajah sinis “Izin kak, ada urusan keluarga yang mendadak” jawab Lara “Oh. . . , ya sudah, Kita mulai saja pelantikan pada malam hari ini” kata kak Nita “Apakah anggota OSIS lama sudah berkumpul semua ?”, tanya kak Ardi “Belum !!! ada yang sedang masak” teriak kak Retno, diujung tendanya. Tetapi tiba-tiba sekilas api menyambar dan berkobar hebat menjalar ke seluruh ruangan “AWAS !!!”.
                                                                        ***
“Tidak!!!” teriak Delia, terbangun dari mimpinya. Ibu Delia menghampiri Delia  “Kenapa sayang ?” tanya ibunya “Ma, Delia mimpi,mimpi buruk !”, “Mungkin kamu masih trauma , sepeninggalnya nenek” kata Ibu Delia “Bukan ma !” bantah Delia, “Delia mimpi ada api, kebakaran ya . . . kebakaran, dan yang paling menakutkan Lara. . .berdiri didepan  Lia dengan bersimpah darah . . . Lia takut ma!”, “Delia . . .” ibupun langsung memeluknya.
“Ma, besok kita pulang yuk” pinta Delia “Iya nak” kata ibu seraya membelai rambut anaknya itu.
                                                                        ***
Siang harinya Delia sudah sampai dirumah, Delia memasuki kamar dan membenahinya. Delia memikirkan tentang mimpinya semalam, “kenapa perasaanku jadi gak enak gini ?” pikirnya “telepon Lara ah!“
            Delia berlari keruang tamu dan langsung menelepon Lara, tapi sayang tak seorang-pun yang mengangkatnya.
“Sialan!” karena kesal Delia langsung menutup gagang teleponnya itu. Sejenak Delia terdiam “Ya . . . ampun! bodohnya aku, Lara kan pasti di sekolah ikutan pelantikan OSIS baru. Besok hari terakhir kegiatan OSIS baru, masih ada waktu dong buat aku sekali lagi“ kata Delia, berbicara sendiri.
***
            Keesokan harinya Delia pun berangkat ke Sekolah. Hari itu hujan turun, tetapi Delia tetap tidak putus asa baginya kegiatan itu akan menambah pengalamannya. Kegiatan pun berlangsung di sekolah
“Ayo  acara kita mulai lagi !!!” teriak kak Ardi
Deliapun langsung berbaris kembali seperti hari pertama dulu.
            Acara demi acara sudah dilalui, dan ketika sang malam datang. Setiap kelompok memasuki tendanya masing – masing. Deliapun memasuki tendanya.
“Hai semua . . . apa kabar ?” tanya Delia tetapi dari kelompoknya hanya Laralah yang menjawab sapaannya itu.“Hai juga Del, kapan kamu pulang ?” tanya Lara dengan lemas “Kemarin siang  . . . Lara kamu kenapa? pucat banget sich !” tanya Delia, Lara hanya tersenyum “Hei! Kenapa tangan kamu ? Dingin banget !” tanya Delia kaget ketika menggenggam lengan sahabatnya itu.Badan Delia-pun langsung dingin tidak enak,  “Kenapa aku jadi merinding gini sich !” pikirnya, “Ra, kok aku jadi gak enak gini sich !” gumamnya, “Kamu harus pergi dari sini secepat mungkin !!!” bisik Lara agak gugup “Kenapa Ra ? Pelantikan belum usai kok kamu ngomong gitu sich !”
***
            Tok! Tok! “Assalamu’alaikum” sapa Jessica ketika didepan pintu rumah Delia. “wa’alaikumsalam” jawab ibu Delia membukakan pintu “Ibu delia ? saya Jessica temannya Lia” kata jessi memperkenalkan dirinya “Ya, ada apa Jess?”, “Saya Cuma mau ngasih tau Lia, kalau pelantikan OSIS terakhir dibatalkan, soalnya malam kemarin terjadi kebakaran sehingga sekolah kami hancur Bu !” jelas Jessica, “Apa !!!” teriak ibu Delia kaget “Kenapa kamu gak bilang tadi pagi atau tadi siang ?”  “Maaf bu, saya kira Delia juga ikut pelantikan kemarin tapi kata Ibunya Lara, Lia sempat menelpon Lara kalau dia tidak ikut karena izin pergi ke Surabaya !” jelas Jessica “Tapi . . . Lia udah pergi ikut pelantikan dari tadi siang !” jelas Ibu Delia.
“Tadi siang ? wah, gawat bu . . .” cemas Jessica “Kita harus segera kesana bu !” Jessica langsung memanggil taksi memintanya untuk mengantarkan mereka berdua kesekolah Delia.
“Kemana Non?” tanya sopir taxi itu, “SMA 25 pak !”, “Ha ? yang bener neng ,kan udah kebakar!mau apa kesana?” tanya sopir itu keheranan.
“Ah! Jangan banyak omong !” ketus Jessica “Bu ayo naik“
***
“Ra, emangnya kenapa ?” tanya Delia sambil kebingungan “Kalau diceritain . .  .Cukup panjang !” Jawab Lara “Cepat kamu pergi dari sini, kamu masih manusia !”
            Delia kebingungan, apa yang dia katakan? dia juga manusia, semua yang ada disini juga manusia kata Delia dalam hati.
“Cepat sebelum kamu terlambat !” ketus Lara, “Tapi . . .”, “Aku udah meninggal! Kami semua yang ada disini hantu !” Lara mulai mengeluarkan airmatanya.
            Delia terkejut, jantungnya berdetak tak karuan “Tidak !” ketus Delia, ia benar-benar bingung antara percaya dan tidak “Terserah kamu mau percaya atau nggak, yang jelas kalau yang lainnya pada tau , kamu bisa celaka !” jelas Lara, “Maksud kamu ?” tanya Lia
            Tak lama terdengar suara langkah kaki seseorang diluar tenda mereka, “Cepat . . . kamu harus pulang ! jangan sampai mereka ngebakar kamu !” ujar Lara, “Maksud kamu apa sich aku nggak ngerti Ra !” Delia tambah bingung melihat sahabatnya itu.
            “Sedang apa kalian ?” tanya Kak Ardi sambil memandangi mereka dengan tajam, “Tidak . . . kami Cuma . . . !”, Lara mulai bingung “Sebentar lagi kalian harus mengikuti Long much jangan menyia-nyiakan waktu untuk istirahat !” ujar kak Ardi tegas, dan tak lama ia pun pergi meninggalkan mereka.
            “Ada apa Ardi ?” terdengar Kak Nita dari luar tenda, “Mereka belum Istirahat ?” tanyanya lagi, “Ya, Lara dan Lia masih mengobrol ! seperti manusia saja !” ujarnya, “Siapa . . . Lia ? bukankah dia tidak ikut pelantikan kemarin ?” tanya Nita, “Jadi . . . dia belum mati ?”
            “Lia . . . cepat keluar dari tenda ini ! mereka sudah tau, cepat !” Lara mendorong Delia keluar dari tenda belakang, Lia yang masih kebingungan berlari mengikuti saran Lara, “Itu dia lari . . . cepat kejar !” suara Kak Nita menggema sambil berlari mengejar Lia.
            Lia benar-benar ketakutan kini, karena lelah ia hendak sembunyi di salah satu tenda, namun ketika ia memasuki tenda itu, “Akh . . . . kalian sedang apa ?” tanya Lia ketika melihat tulang-tulang berceceran dibenahi oleh mereka yang ada di tenda tersebut, mata mereka mulai menyelidik . . . memandang Lia begitu tajam. Saat lia sadar mereka bukanlah manusia, dia langsung berlari menjauhi tenda itu.
            “Tolong . . . aku tidak tahan !” Delia menjerit, dan ketika seorang memegang pundaknya “Akh . . . “, “Jangan takut Del, ini aku Lara ! cepat kamu naik ke jendela ruang Laboratorium, keluarlah lewat jalan itu cepat !” Delia pun berlari menuju Laboratorium, namun ketika dia mengangkat kakinya “Jangan kira kamu bisa lolos Lia !” suara Kak Nita terdengar jelas di telinga Lia, “Tolong jangan sakiti aku, tolong kak !” pinta Lia ketakutan, “Kami di sini terbakar hangus ketika pelantikan, dan kamu enak-enakkan di luar sana . . . itu tidak adil ! kamu harus mati seperti kami !”
           
***
            “Ayo dong Pak cepat !” Jessica mulai gundah, “Ini juga udah cepet neng !” sahut Sopir taksi itu. “Aduh . . . kenapa lagi ini . . . mesinnya susah dinyalakan lagi !” taksi itu berhenti, raut muka mereka menjadi tambah gelisah.
***
            “Jangan . . . jangan !” Delia mulai menangis melihat api di tangan kak Nita, “Akh . . . “ Kak Nita terjatuh oleh tendangan Lara. “Cepat pergi . . . !” teriak Lara, tanpa pikir panjang Delia langsung tancap menaiki jendela dan menuruni tangga melewati koridor yang gelap
            Tak lama kemudian jessica dan ibu Delia sampai disekolahnya. Ibu Delia terkejut melihat bangunan sekolah Delia  hancur.
“Ayo bu, kita cari Delia” ajak Jessica,
            Mereka mencari Delia kemana-mana. Akhirnya Deliapun ditemukan sudah tergeletak pingsan disudut kelas yang telah rapuh.
“Delia!!“ teriak ibunya “Ya ampun Delia . . .” gumam Jessica tak percaya “Jessi tolong ibu ,bawa Delia ketaksi, kita harus cepat pergi dari sini”, “Iya bu, Jessi juga udah merinding!”.
            Mereka langsung pergi meninggalkan sekolah itu. Dari atas gedung sekolah terlihat Lara yang sudah bersimpah darah diseluruh badannya tersenyum lega.
“Selamat tinggal Del, kamu tetep sahabatku” gumam Lara.
***
Delia sudah sadar dirumahnya, Jessica menceritakan kejadian yang sebenarnya secara rinci, karena ia kebetulan melihat jelas pada waktu kejadiannya.
“Begitulah del, lalu polisi yang menangani kasus ini”, “Kamu lihat mayat Lara ?” tanya Delia, Jessica menggelengkan kepala “Lara  yang nolongin aku, Lara. . .” gumam Delia mengeluarkan air matanya. Lalu Jessica-pun memeluknya “Trim’s Lara !” gumam Delia.
                                                           

THE END


0 komentar:

Poskan Komentar