Sabtu, 17 Desember 2011

PENGUJIAN EFEKTIVITAS BAHAN PENGAWET

PENGUJIAN EFEKTIVITAS BAHAN PENGAWET
(NIPAGIN)








BAB I
PENDAHULUAN

Prinsip Percobaan
Berdasarkan Angka Lempeng Total dan metode Pelat.

Tujuan Percobaan
Agar mahasiswa mengetahui efektivitas bahan pengawet terhadap pertumbuhan mikroorganisme.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

Bahan pengawet adalah bahan tambahan yang sering digunakan pada obat, makanan, kosmetika dan bahan alam. dengan tujuan untuk memperpanjang masa sampannya tetapi tidak untuk tujuan menutupi keburukan sediaan tersebut.

Bahan pengawet yang dipakai dapat berupa bahan alam atau bahan sintesis/kimia. beberapa contoh bahan pengawet alam adalah kunyit, jahe, laja. sedangkan bahan pengawet sintesis yaitu : senyawa benzoat, sorbat, nipagin, dan masih banyak yang lain.

Pemilihan bahyan sebagai pengawet sangat tergantung dari sifat fisika dan kimia sediaan yang akan di awetkan dan tujuan penggunaan pengawet tersebut, sehingga jenis dan jumlah yang digunakan dapat bervariasi. misalnya penggunaan benzoat untuk minuman ringan, yang diijinkan adalah tidak boleh lebih dari 500mg/kg.  semua ini diatur oleh Departemen Kesehatan Republik Indonesia, melalui PerMenKes RI. No.722/MenKes/Per/88 yang telah direvisi pada tahun 2001. Diharapkan melalui cara ini penggunaan bahan pengawet pada semua sediaan dapat diawasi dengan ketat.

Untuk dapat mengefektifkan penggunaannya, Farmakope Indonesia Edisi IV telah memuat metode uji mikrobiologinya. cara ini diharapkan dapat membantu menentukan jenis dan jumlah bahan pengawet yang tepat untuk di gunakan pada sediaan uji.

BAB III
METODELOGI PERCOBAAN

III.1.  Alat dan Bahan Percobaan
1. Tabung reaksi
2. pipet media
3. Pipet volume
4. Cawan petri
5. botol sirup
6. Bahan pengawet nipagin 10 %
7. Cairan laktose broth
8. suspensi isolat bakteri
9. suspensi isolat kapang
10. sirup

III.2. Prosedur Percobaan

Pengenalan beberapa jenis pengawet.
1. Disiapkan 80 mL media Lactose broth, 10 mL larutan nipagin stok 10%, 1 isolat suspensi bakteri, 1 isolat suspensi kapang, 10 tabung reaksi.
2. Suspensi bakteri dan khamir di ukur kekeruhannya setara dengan T= 25% pada 258 nm dan kapang dengan T=10% pada panjang gelombang radiasi yang sama.
3. isikan 8mL LB ke tabung reaksi no. 1,2,3,4. 10 mL LB ke tabung reaksi no.6, 6. 9mL LB  ke tabung reaksi no. 7,8.
4. buat larutan nipagin 5% sebanyak 3ml ditambah dengan 3 ml air steril pada tabung reaksi no.9.
5. tambahkan 1 mL pengawet nipagin 5% pada tabung reaksi no. 1 dan 2, serta 1 mL nipagin 10% pada tabung reaksi no. 3 dan 4.
6. tambahkan 1 mL susupensi bakteri pada tabung reaksi no. 1,3, dan 7.
7. Tambahkan 1 mL susupensi kapang pada tabung reaksi no. 2,4, dan 8.
8. Tabung reaksi no. 5 dan 6 menjadi larutan blangko untuk bakteri dan kapang dalam pembandingan.
9. Inkubasikan. untuk bakteri di inkubasi 24 jam dan untuk kapang di inkubasi selama 4 hari. 
 
Pengujian efektivitas bahan pengawet pada sirup
1. disiapkan sediaan uji 20mL larutan gula 1015 yang mengandung bahan pengawet nipagin.
2. suspensikan bakteri dan kapang memiliki kekeruhan dengan T=25% pada 258 nm dan kapang dengan T=10% pada panjang gelombang radiasi yang sama.
3. isikan 20mL sediaan uji pada dua botol.
4. pada botol-1 diinokulasikan 1 mL suspensi bakteri, pada botol-2 diinokulasikan 1 mL suspensi kapang. kemudian disimpan selama 30 ment pada suhu kamar.
5. pipet @ 1mL sediaan uji dari setiap botol, dan dimasukkan ke dalam empat cawan petri dan homogenkan. 
6. dua cawan petri diisi 15 mL media NA dan 2 cawan petri lainnya diisi 15 mL media SDA.
7. di inkubasi. pada bakteri di inkubasi 24 jam dan untuk kapang di inkubasi selama 4 hari.
8. lakukan pengamatan yang sama setelah penyimpanan sirup selama 7 hari.


BAB IV
HASIL PERCOBAAN




BAB V
PEMBAHASAN
 
Uji efektivitas bahan pengawet dilakukan untuk menetukan jenis dan jumlah bahan pengawet yang tepat digunakan pada sediaan uji. Uji efektivitas bahan pengawet dilakukan secara mikrobiologi dengan menggunakan media cair Lactose Broth (LB), Nutrient Agar (NA) dan Sabouraud Dextrose Agar (SDA).

  1. Pengenalan beberapa jenis pengawet.
Pada praktikum ini, pengenalan jenis pengawet menggunakan isolat yang terlebih dahulu dilakukan suspensi dan telah diukur kekeruhannya pada masing-masing isolat untuk bakteri dan kapang/khamir. Isolat bakteri kami masukkan ke dalam tabung reaksi no. 1, 3 dan 7. Tujuannya untuk mengetahui apakah sediaan yang diberi bahan pengawet dapat menghambat pertumbuhan bakteri atau tidak. Sedangkan isolate kapang/khamir kami masukkan ke dalam tabung reaksi no. 2, 4 dan 8. Tujuannya untuk mengetahui apakah sediaan yang diberi bahan pengawet dapat menghambat pertumbuhan kapang dan khamir atau tidak. Masing-masing tabung reaksi tersebut sebelumnya telah di beri cairan Laktose Broth (LB). 

Larutan blangko merupakan larutan yang digunakan sebagai pembanding. Pada praktikum ini, larutan blangko yang kami buat yaitu dari cairan Laktose Broth  (LB) pada tabung reaksi no. 5 dan 6. Sehingga parameter yang dapat dilihat adalah kekeruhan yang dihasilkan pada setiap tabung reaksi yang dibandingkan dengan larutan blangko. Jika tabung reaksi yang telah diberi pengawet menghasilkan kekeruhan maka bahan pengawet yang kami gunakan tidak efektif sedangkan jika tabung reaksi tidak mengalami kekeruhan dan warnanya sama seperti pada larutan blangko maka bahan pengawet yang kami gunakan efektif dalam menghambat pertumbuhan mikroorganisme. 

Nipagin merupakan bahan pengawet obat-obatan. Kami menambahkan  nipagin 5% pada tabung reaksi no. 1 dan 2. Sedangkan nipagin 10% ditambahkan pada tabung reaksi no. 3 dan 4. Perbedaan kadar nipagin pada praktikum ini bertujuan untuk mengetahui seberapa banyak jumlah pengawet yang tepatdigunakan pada sediaan uji.

Hasil dari praktikum ini yaitu, pada tabung reaksi no. 1,3 dan 7 setelah dilakukan inkubasi selama 24-48jam menghasilkan larutan yang keruh. Hal ini dapat dibandingkan dengan larutan blangko yang jernih. Warna keruh yang dihasilkan pada ketiga tabung reaksi tersebut sama berkisar 25%. Adanya kekeruhan tersebut, maka sediaan yang telah diberi bahan pengawet 5% dan 10% tetap menghasilkan bakteri sehingga pengawet nipagin 5% dan 10% tidak efektif menghambat pertumbuhan bakteri. 

Pada tabung reaksi no. 2, 4 dan 8 setelah dilakukan inkubasi selama 4 hari menghasilkan larutan yang keruh. Hal ini dapat dibandingkan dengan larutan blangko yang jernih. Pada tabung reaksi no. 2 dan 8 menghasilkan warna keruh yang sama berkisar 25% sedangkan pada tabung reaksi no. 4 warna lebih keruh berkisar 50% . Adanya kekeruhan tersebut, maka sediaan yang telah diberi bahan pengawet nipagin 5% dan 10% tetap menghasilkan kapang/khamir sehingga pengawet nipagin 5% dan 10% tidak efektif menghambat pertumbuhan kapang/khamir.

  1. Pengujian efektivitas bahan pengawet pada sirup.
Pada praktikum ini, uji efektivitas bahan pengawet menggunakan media sirup. Sirup ini di uji dengan menggunakan media Nutrient Agar (NA) dan Sabouraud Dextrose Agar (SDA) masing-masing di tambah dengan bahan pengawet nipagin.  Media Nutrient Agar (NA) digunakan untuk mengidentifikasi hasilnya mikroba/bakteri. Dan media Sabouraud Dextrose Agar (SDA) digunakan untuk mengidentifikai  hasilnya kapang dan khamir.

Percobaan ini dilakukan dengan dua kali penyimpanan. Yaitu pada saat sirup disimpan selama 30 menit dan 7 hari. Tujuannya untuk mengetahui efektivitas nipagin dalam menghambat pertumbuhan mikroorganisme pada sirup. 

Sirup yang sudah ditambahkan dengan nipagin kemudian di bagi menjadi dua. Yaitu sirup yang ditambahkan isolate bakteri dan sirup yang ditambahkan isolate kapang/khamir. Setelah di simpan 30 menit kemudian masing-masing sirup itu di pindahkan ke media NA dan media SDA lalu di inkubasi. 

Hasil dari praktikum ini adalah, pada media Nutrient Agar (NA) pertama menghasilkan pertumbuhan mikroorganisme berbentuk koloni yang bertumpuk banyak dan berwarna putih. Sedangkan pada media Nutrient Agar (NA) kedua menghasilkan pertumbuhan mikroorganisme bakteri berbentuk koloni kecil dan berwarna putih. Dari hasil tersebut maka bahan pengawet nipagin pada sirup setelah disimpan selama  30 menit tidak dapat menghambat pertumbuhan bakteri secara efektif.

Sedangkan pada media Sabouraud Dextrose Agar (SDA) setelah di inkubasi selama 4 hari menghasilkan pertumbuhan khamir. Hal ini terlihat dari media yang menghasilkaan koloni berlendir berwarna putih.. Dari hasil tersebut maka bahan pengawet nipagin pada sirup setelah disimpan selama 30 menit tidak dapat menghambat pertumbuhan khamir tapi dapat menghambat pertumbuhan kapang secara efektif.
Sirup yang di di simpan selama 7 hari kemudian dipindahkan ke media Nutrient Agar (NA) dan media Sabouraud Dextrose Agar (SDA) untuk di inkubasi kembali. Tujuannya untuk mengetahui apakah pengawet nipagin pada sirup yang telah disimpan selama 7 hari ini menghasilkan aktivitas pertumbuhan bakteri, kapang dan khamir atau tidak sama sekali. 

Pada media Nutrient Agar (NA). pertama menghasilkan pertumbuhan mikroorganisme berupa koloni-koloni putih. Begitupun pada media NA yang kedua. Kami menyimpulkan koloni-koloni ini adalah bakteri. Dari hasil tersebut maka bahan pengawet nipagin pada sirup setelah disimpan selama 7 hari tidak dapat menghambat pertumbuhan bakteri secara efektif.

Pada media Sabouraud Dextrose Agar (SDA) pertama tidak menghasilkan kapang dan khamir. Begitupun pada media SDA yang kedua. Dari hasil tersebut maka bahan pengawet nipagin pada sirup setelah disimpan selama 7 hari tersebut dapat menghambat pertumbuhan kapang dan khamir secara efektif.

BAB VI
KESIMPULAN

            Dari hasil percobaan yang telah kami lakukan maka dapat diambil kesimpulan sebagai berikut :
  1. Berdasarkan pada metode cairan lactose broth (LB), bahan pengawet Nipagin 5% dan 10% tidak efektif menghambat pertumbuhan mikroorganisme bakteri, kapang dan khamir.
  2. Penambahan Nipagin pada sirup yang di simpan 30 menit dan 7 hari tidak dapat menghambat pertumbuhan bakteri secara efektif. sehingga Nipagin semakin lama aktifitas kerjanya tetap tidak berpengaruh terhadap pertumbuhan bakteri.
  3. Penambahan Nipagin pada sirup yang di simpan selama 30 menit dapat menghambat pertumbuhan kapang secara efektif tapi menghasilkan pertumbuhan khamir. Sedangkan penyimpanan pada 7 hari dapat menghambat pertumbuhan kapang dan khamir secara efektif. sehingga Nipagin semakin lama aktifitas kerjanya semakin bagus dalam menghambat pertumbuhan kapang dan khamir.

0 komentar:

Poskan Komentar