Sabtu, 19 November 2011

Miko

MIKO




Kabut tebal masih menyelimuti awan di pagi hari. Kali ini mentari tak kunjung bersinar. Cukup kudengar kicauan burung yang seolah menertawakan jati diriku yang selalu kesepian. 

Langkah kaki mulai gesit berjalan hingga menuju gerbang sekolah. Seorang Penjaga sekolah tersenyum. Tampak wajahnya sudah mulai keriput. Aku balik membalas. Kemudian aku menuju kelas Dea yang didalamnya sudah ramai oleh anak-anak berseragam putih abu lainnya. Aku bersembunyi diluar jendela menatap mereka. Kulihat Dea menyimpan Ranselnya lalu duduk terpaku sama seperti aku. 

“Assalamu’alaikum, Dea !” sapa Wina menghampiri Dea, “Pagi-pagi kok wajah kamu sudah murung ?” tanyanya. Wina teman sebangku Dea.
“Ah, nggak kok,” balas Dea.
“Bener gak apa-apa ?” Tanya Wina meyakinkannya. Dea terdiam.

Dea tidak pandai berteman. Itulah sebabnya kenapa dia kesepian. Kadang hatinya Hampa tapi dia selalu menutupinya dengan selalu bermain denganku. Dea sama denganku. Kesepian. 

Aku masih ingat peristiwa pertamakalinya aku bertemu dengan Dea. Dia dikejar-kejar oleh musuhnya, dan itupun sama terjadi denganku. Dari arah yang berlawanan kami bertemu dan saling terpaku. Dia tahu dari kejauhan ada yang mengejarku. Mata dea waktu itu seolah merasa kasihan. Hingga kemudian, dia membawa aku untuk bersembunyi bersamanya dan membawa aku pulang. Sejak dari situlah kami mulai mengenal dan menjadi dekat hingga saat ini.

“Miko,!” Teriak Dea berlari kemudian menggendongku. “Kamu jangan pergi jauh-jauh. Kalau kamu hilang, aku yang kerepotan. Dan juga bakal sedih.” Ucapnya. Aku mengangguk dengan penuh haru. “Ayo kita pulang, Aku ingin cepat sampai dirumah. Menyantap makan siang yang dibuat oleh ibuku !” lanjutnya. 

***

Seusai makan siang, Dea kembali membuka buku pelajarannya. Aku menanjak ke tempat tidurnya. Lalu berbaring disampingnya. 

“Hari ini, aku harus menyelesaikan tugas Fisika ku,” ucap Dea seakan memberitahuku. Dea membuka lembaran buku paketnya. Dia membacanya. Aku melihat gambar-gambar menarik dalam bukunya. Ada 7 buah bola bulat yang berbaris dari yang terkecil hingga yang terbesar. Aku terus menatapnya. Dea tersenyum.

“Ini tentang Tata Surya, Miko. Kau tertarik ?” Tanya Dea, Aku mengelus tangannya. “Ini matahari,pusat tata surya,” Dea menunjukkan gambar matahari padaku. “Lalu gambar bulat yang berbaris ini adalah Planet yang mengitarinya. Yang terdekat dengan matahari adalah Planet Merkurius, disusul oleh Venus, kemudian Mars, lalu Bumi., lalu ada Neptunus, Jupiter dan Pluto. Planetnya indah bukan, Miko ? kau tahu, kita tinggal di Planet mana ?” Aku bingung tidak tahu.”Kita tinggal di Planet Bumi. Gambar yang ini,” jawab Dea memperlihatkan bumi padaku.
“Begitu besar kuasa Ilahi sehingga dia mampu menciptakan sebuah kehidupan yang amat luar biasa. Subhanallah, sungguh cantik dan indah jika kita amati hasilnya. Dia menciptakan Bumi untuk Manusia beserta fasilitasnya. Sumber daya alam yang sempurna. Tapi Miko, kadang manusia lupa akan nikmat yang telah mereka dapat. Contohnya sekarang, Manusia sudah tidak peduli terhadap Buminya. Yang ada dalam otak mereka adalah kesuksesan tanpa memikirkan dampaknya dikemudian.” Dea begitu sedih,”Kadang aku malu sebagai manusia, karena akupun masih tidak bisa memelihara lingkungan disekitarku sendiri.” Dea kembali membaca bukunya. 

Aku masih mengamati gambar itu. Jadi ini Bumi. Aku tinggal di Bumi, salah satu planet yang mengitari Matahari. Benar-benar luar biasa ! Tapi, siapakah yang menciptakannya ? rasanya aku ingin bertemu dengannya. Aku masih penasaran. 

Hingga Sore, aku terus berfikir, siapakah yang menciptakan Tata surya ? siapakah ? Aku ingin bertanya pada Dea, tapi Dea pasti tidak mengerti bahasaku. Ya ampun…., kenapa aku tidak menjadi manusia saja sama seperti Dea. Jika aku manusia, aku akan mencari informasi siapa yang sudah menciptakan tatasurya yang demekian hebatnya lewat buku-buku, atau media internet yang modern saat ini dikalangan manusia.

Sampai Malam menjelang. Aku lihat kegiatan rutin Dea sebelum ia tidur. Dea sering menyebutnya itu Shalat. Aku memandangnya diatas tempat tidur. Setelah selesai, Dea melipat peralatan shalatnya. Kemudian dia tersenyum menghampiriku. Sejenak Dea menatap heran padaku. Mungkin wajahku ada yang berbeda ?

“Miko, kenapa daritadi kau diam ? biasanya kau lompat kesana-kemari tidak karuan,” aku berjalan menuju tumpukan buku Dea. Lalu aku melempar Buku yang tadi ia baca. Dengan kemampuanku, aku geser buku itu dan memeprlihatkannya. Dea mengambil buku itu. “ Ada apa ? kenapa dengan buku ini ?”

Ah…seandainya aku manusia. Aku akan bilang, siapa yang sudah menciptakan Tata surya ? cukup hanya itu saja. Tidak repot seperti ini. Dea membuka buku itu, ketika ia membuka lembaran Gambar Tata surya, aku menghentikannya.

“Kau masih tertarik dengan Tata surya ?” Dea menebak pikiranku. “Aku tidak menyangka kau suka bacaan ini.” Aku terus memegang gambar Bumi dengan tanganku yang kecil.
“Ya sudah, kau masih ingin tahu tentang Bumi rupanya. Aku juga tidak tahu proses pembentukan bumi seperti apa. Allah tahu segalanya. Karena dia yang menciptakannya,”
Allah ? jadi dia yang menciptakannya.
“Kalau secara teori, mana mungkin kau mengerti, Miko. Secara gambaran umum saja aku jelaskan padamu. Bumi itu bulat. Diciptakan oleh Allah dzat yang maha besar. Mungkin kamu akan penasaran, siapa Allah itu,”
Aku mengangguk. Benar sekali Dea. Aku penasaran.
“Tapi aku tidak akan tahu wujud Allah itu seperti apa. Dan kita tidak boleh penasaran wujud Allah itu seperti apa. Kita cukup yakin bahwa Allah itu ada. Dan Allah itu Esa, satu. Allah itu yang menciptakan semua makhluk hidup tanpa kekurangan apapun. Manusia diharuskan untuk beribadah kepada-Nya.”
“Mungkin zaman sekarang, banyak manusia yang menentang aturan Allah karena terpengaruh oleh jalan yang tidak benar. Hm…meskipun demikian, aku tidak ingin lupa pada Allah. Aku ingin lebih dekat padanya. Meskipun aku kesepian namun hati merasa ada yang mendampingi dan itu adalah Allah.”
Aku terus memperhatikan penjelasan Dea hingga ia mulai mengantuk.
“Sudahlah, Miko. Besok aku harus kesekolah. Aku harus tidur. Selamat Malam temanku.” Dea berbaring menyelimuti tubuhnya dengan selimut yang besar. 

“Meeeooong . . .!” balasku. Kerena hanya itu kata-kataku yang terdengar oleh manusia sebagai seorang kucing.

0 komentar:

Poskan Komentar