Image by FlamingText.com
Image by FlamingText.com

Selasa, 18 Oktober 2011

INOKULASI, INKUBASI DAN DESTRUKSI




BAB I
PENDAHULUAN

I.1 Prinsip Percobaan

1. Inokulasi berdasarkan pada media pertumbuhan mikoorganisme, pada bakteri mengunakan media MCA dan NA. Pada kapang dan khamir menggunakan media SDA.
2. Inkubasi berdasarkan pada suhu dan waktu inkubasi untuk setiap jenis mikroorganisme.


I.2 Tujuan Percobaan

Mahasiswa dapat mengetahui tekhnik inokulasi, inkubasi, dan destruksi.


BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

Mikrobiologi adalah suatu ilmu yang mempelajari makhluk hidup yang sangat kecil (diameter kurang dari 0.1 mm) yang tidak dapat dilihat dengan mata biasa tanpa bantuan suatu peralatan khusus. Makhluk ini, disebut jasad renik/mikroorganisme. Terdapat dimana-mana diantaranya ada yang bermanfaat bagi manusia, tetapi banyak pula yang merugikan seperti misalnya yang menimbulkan berbagai penyakit. Mikrobiologi meliputi berbagai disiplin ilmu seperti bakteriologi, imunologi, vibrologi, mikologi dan parasitologi. Ilmu ini berkembang dengan pesatnya dari tahun ke tahun, sehingga merupakan disiplin ilmu. Mikrobiologi adalah bagian dari ilmu pengetahuan alam yang mempelajari tentang jasad renik dan mencakup bentuk, kehidupan, diversitas dan evolusi, aktivitas yang berkaitan dengan manusia seta peranannya sebagai dasar basic biological sience. (Staf pengajar Fakultas kedokteran Universitas Indonesia, 1994).

Bidang mikrobiologi terbagi atas 2, yaitu mikrobiologi dasar dan mikrobiologi terapan. Mikrobiologi dasar mengarah pada pengetahuan dasar tentang sel dan populasi seperti klasifikasi, morfologi, fisiologi, ekologi, genetika dan biokimia yang berkaitan dengan jasad renik. Sedangkan mikrobiologi terapan mencakup bidang yang tidak terbatas, dapat meliputi tanah, air, udara, linkungan, pangan, kedokteran, laut, industri dan sebagainya. (Dwidjoseputri, 1994).

Salah satu hal yang menunjang dalam pembelajaran mikrobiologi adalah laboratorium. Laboratorium digunakan untuk melakukan percobaan-percobaan yang dilakukan untuk memahami lebih dalam tentang hal-hal yang berkaitan dengan jasad renik. Bekerja di laboratorium selalu memungkinkan terjadinya suatu kecelakaan. Satu-satunya jalan untuk menghindari kecelakaan tersebut adalah dengan bekerja secara cermat dan hati-hati. Peralatan merupakan suatu bagian yang mendasari dalam pembentukan laboratorium, baik itu laboratorium yang sederhana (praktikum) maupun untuk tujuan penelitian (laboratorium penelitian). Pengenalan alat-alat laboratorium merupakan hal yang sangat penting sebelum melakukan percobaan karena dapat memperlancar kegiatan praktikum serta menghindari penyalahgunaan fungsi setiap alat akibat ketidaktahuan seorang praktikan (Lim, 1998).
Hampir semua tindakan yang dilakukan dalam diagnosa mikrobiologis, sterilisasi sangat diutamakan baik alat-alat yang siap pakai maupun medianya. Suatu alat atau bahan dikatakan steril apabila alat atau bahan tersebut bebas dari mikroba baik dalam bentuk vegetatif maupun spora. Oleh karena itu, bagi seorang pemula di bidang mikrobiologi sangat perlu mengenal teknik sterilisasi, pembuatan media serta teknik penanaman, hal ini semua merupakan dasar-dasar kerja dalam laboratorium mikrobiologi (Volk & Wheeler, 1993).

A.BIAKAN MURNI
     Di dalam alam, semua jenis kuman dan jamur hidup berdampingan satu sama lain, sehingga setiap pembiakan pertama suatu bahan pemeriksaan akan menghasilkan pelbagai jenis kuman. Baru kemudian dapat dilakukan pemilihan biakan-biakan murni untuk pembiakan selanjutnya. Biakan murni bakteri adalah biakan yang terdiri atas satu spesies bakteri yang ditumbuhkan dengan medium buatan. Medium buatan tersebut berfungsi sebagai medium pertumbuhan. Pada medium ini bakteri dapat tumbuh dan berkembang biak. Bahan dasar yang digunakan untuk medium pertumbuhan ini adalah agar-agar. Untuk bakteri heterotrof medium dilengkapi dengan air, molekul makanan (misal gula) sumber nitrogen dan mineral. Biakan murni dilakukan untuk keperluan diagnostik, karakterisasi mikroorganisme, industri farmasi dan kegiatan lain yang berkaitan dengan mikroorganisme Untuk hasil yang lebih baik agar bakteri tumbuh, alat dan bahan yang digunakan di sterilkan terlebih dahulu. Dari pertumbuhan bakteri pada perbenihan-perbenihan cair dan padat dapat diperoleh keterangan-keterangan tambahan untuk identifikasi kuman tersebut. Pada benih cair dapat dilihat :
 Pertumbuhan pada permukaan. Ada tidaknya selaput pada permukaan dan sebagainya.
 Kekeruhan dari perbenihan.
 Bau
 Endapan.
(Gerard Bonang & Enggar S.Koeswardono, 1982).

B. STERILISASI
Secara umum, sterilisasi merupakan suatu proses pemusnahan kehidupan khususnya mikrobia dalam suatu wadah ataupun peralatan laboratorium. Sterilisasi dalam mikrobiologi adalah suatu proses untuk mematikan semua mikroorganisme yang terdapat pada atau di dalam suatu benda. Ada tiga cara utama yang umum dipakai dalam sterilisasi yaitu penggunaaan panas, penggunaan bahan kimia, dan penyaringan (filtrasi). Apabila panas digunakan bersama-sama dengan uap air maka disebut sterilisasi basah, bila tanpa kelembapan maka disebut sterilisasi kering (Achmad, 2007).

C. INOKULASI
     Inokulasi adalah pemindahan sel-sel mikroorganisme dari biakan ke medium steril dengan jarum/lingkaran inokulasi yang steril. Juga introduksi mikroorganisme ke dalam tubuh hewan, seperti dalam vaksin. . Untuk melakukan penanaman bakteri (inokulasi) terlebih dahulu diusakan agar semua alat yang ada dalam hubungannya dengan medium agar tetap steril, hal ini agar menghindari terjadinya kontaminasi (Volk & Wheeler,1990).

Ada beberapa tahap yang harus dilakukan sebelum melakukan teknik penanaman bakteri (inokulasi) yaitu :
1. Menyiapkan ruangan Ruang tempat penanaman bakteri harus bersih dan keadannya harus steril agar tidak terjadi kesalahan dalam pengamatan atau percobaaan .dalam labotarium pembuataan serum vaksin dan sebagainya. Inokulasi dapat dilakukan dalam sebuah kotak kaca (encast) udara yang lewat dalam kotak tersebut dilewatkan saringan melalui suatu jalan agar tekena sinar ultraviolet (Pelczar, 1986).
2. Pemindahan dengan pipet Cara ini dilakukan dalam penyelidikan air minum atau pada penyelidikan untuk diambil 1 ml contoh yang akan diencerkan oleh air sebanyak 99 ml murni (Pelczar, 1986).
3. Pemindahan dengan kawat inokulasi Ujung kawat inokulasi sebaliknya dari platina atau nikel .ujungnya boleh lurus juga boleh berupa kolongan yang diametrnya 1-3mm. Dalam melakukuan penanaman bakteri kawat ini terlebih dahulu dipijarkan sedangkan sisanya tungkai cukup dilewatkan nyala api saja setelah dingin kembali kawat itu disentuhkan lagi dalam nyala (Pelczar, 1986).
Inokulum adalah mikroorganisme yang digunakan untuk pemindahan ke dalam medium. Untuk meningkatkan keberhasilan inokulasi mikroba diperlukan beberapa media, yaitu media tumbuh, peralatan, dan metode inokulasi. (Volk & Wheeler, 1990).

Untuk meningkatkan keberhasilan inokulasi mikroba diperlukan beberapa media yaitu media tumbuh,peralatan,dan metode inokulasi.

 Media tumbuh
Media ini merupakan media yang disiapkan untuk digunakan menumbuhkan mikroba. Komposisi media tumbuh disesuaikan dengan mikroba yang akan ditumbuhkan. Berdasarkan bentuknya, media tumbuh dapat dibagi menjadi cair dan media apat (agar). Perbedaan dari kedua media ini yaitu penambahan tepung adalah untuk memadatkan media. Sedangkan media padat dibagi menajdi tiga macam, yaitu media agar tegak (deep agar), agar miring (slants agar), dan lempeng agar (plate agar). Agar biakan murni dapat dibuat, medium harus steril sebelum inokulasi; yaitu kita harus yakin bahwa tidak ada organismehidup dapat berada dalam medium jika diinokulasi. Metode yang lazim digunakan untuk mensterilkan media ialah menempatkannya dalam otoklaf (sebetulnya panci masak bertekanan besar dan dielaborasi). Otoklaf menggunakan uap bertekanan untuk menaikkan suhu barang yang sedang disterilkan sampai suatu taraf yang mematikan semua bentuk kehidupan. Untuk sterilisasi rutin, otoklaf biasanya dioperasikan pada tekanan uap 15 lb/in2. Pada tekanan ini suhu menjadi 121 oC. Waktu yang diperlukan pada suhu ini adalah 15 sampai 20 menit. Apabila medium berukuran besar disterilkan, maka waktu yang diperlukan akan lebih panjang, karena panas memerlukan waktu untuk menembus bahan tersebut (Volk & Wheeler, 1993).
Pada perbenihan agar miring dapat dilihat berbagai macam pertumbuhan bakteri. Ada yang hanya tumbuh pada tempat penanaman, ada yang tumbuhnya menyebar dan sebagainya. Pada perbenihan lempeng agar dapat dilihat berbagai bentuk koloni bakteri. Koloni-koloni ini dapat dibedakan satu sama lain berdasarkan sifat-sifat permukaannya, pinggirnya, warnanya dan perubahan-perubahannya yang ditimbulkan pada perbenihan. Pada perbenihan tabung agar tegak dapat dilihat sifat-sifat pertumbuhan terbaik, apakah di permukaan perbenihan atau jauh di dalam perbenihan. Cara pertumbuhan di sekitar tempat tusukan sengkelit; ada tidaknya pencairan perbenihan, misalnya pada perbenihan gelatin; ada tidaknya pencairan perbenihan, misalnya pada perbenihan semi-solid. ( Gerard Bonang & Enggar.S.Koeswardono, 1982).
Agar-agar, gelatin atau gel silika merupakan bahan untuk membuat medium menjadi padat. Namun, yang paling umum digunakan adalah agar-agar. Meskipun bahan utama agar-agar adalah gelatin, yaitu suatu kompleks karbohidrat yang diekstraksi dari alga marin genus Gelidium, namun sebagian besar mikroorganisme tidak dapat menggunakannya sebagai makanan sehingga agar-agar dapat berlaku hanya sebagai pemadat (Hadioetomo, 1993).

 
BAB III
METODELOGI PERCOBAAN

III.1 Alat dan Bahan yang digunakan

 Alat yang digunakan :

Tabung reaksi,
Cawan petri,
Pipet berskala,
Pipt media,
Pembakar bunsen,
Jarum ose bulat,
Jarum ose lurus,
Rak tabung.

 Bahan yang digunakan :

Nutrient Agar (NA),
MacConkey Agar (MA),
Sabouraud Dextrose Agar (SDA),
Air selokan sebagai sampel.

III.2 Prosedur Percobaan

III.2.1 Inokulasi mikroorganisme

 Masing-masing isolat mikroorganisme yang telah disediakan dalam media tegak, mring, dan pelat diinokulasikan.
Inokulasi dilakukan dengan cara media miring digores dengan menggunakan kawat ose bulat, sedangkan media tegak ditusuk dengan kawat ose lurus.
 Setiap atu galur mikroorganisme selesai dilakukan inokuasi, kawat ose harus diflambir. Galur kapang diinokulasi paling akhir.
III.2.2 Inkubasi hasil inokulasi
 Semua cawan dan tabung diinkubasi pada suhu yang optimum dan waktu yang tepat untuk pertumbuhan mikroorganisme yang diinokulasi. Biakan bakteri pada 35-370C selama24 sampai 48 jam, khamir pada 30-350C selama 3 hari dan kapang pada 20-250C selama 5-7 hari.
 Pengamatan dilakukan terhadap seluruh ciri makroskopis yang dapat dilihat. Jika perlu dapat dilihat ciri makroskopisnya juga. Seluruh pengamatan dicatat dengan lengkap dan diteliti bila perlu dengan foto.
 Hasil percobaan yang terbaik dapat disimpan dalam lemari pendingin untuk dipergunakan pada percobaan minu depannya.

III.2.3 Destruksi

 Autoklaf diisi dengan aquadest yang telah disiapkan sampai batas yang telah ditentukan.
 Semua alat gelas atau bahan lain yang pernah kontak dengan mikroba dimasukkan kedalam autoklaf.
 Kunci pengaman autoklaf dipasang, lubang pengeluaran uap ditutup, kemudian autoklaf dinyatakan pada suhu 1210C. Waktu destruksi dihitung selama 30 menit setelah suhu yang diinginkan tercapai.
 Alat dimatikan, uapnya dikeluarkan sampai tekanan dalam alat samadengan nol, lalu alat gelas dikeluarkan dari dalam autoklaf.
 Semua alat langsung dicuci denganair sabun untuk menghindari perkembangan popuasi mikroba yang baru.
 Alat gelas dikeringkan dengan cara ditiriskan (tidak boleh dengan lap), kemudian dibungkus sesuai dengan keentuan yang berlaku bila akan disterilisasi lagi.



BAB IV
HASIL PERCOBAAN

1. Pada Media MacConkey Agar (MCA)
Proses inkubasi : ±19 jam
Pada suhu optimum (35º-37ºC)

• Dalam cawan petri (media pelat/datar)

Sebelum inokulasi

Hasil : Tidak ada perubahan terhadap media tersebut.

• Dalam tabung reaksi (media tegak)

Sebelum inokulasi Setelah inkubasi
Hasil : Tidak ada perubahan terhadap media tersebut


• Dalam tabung reaksi (media miring)

Sebelum inokulasi Setelah inkubasi
Hasil : Tidak ada perubahan terhadap media tersebut.

2. Pada Media Nutrient Agar (NA)
Proses inkubasi : ±19 jam
Pada suhu optimum (35º-37ºC)

• Dalam cawan petri (media pelat/datar)

Sebelum inokulasi

Hasil : Terjadi perubahan, pada media terdapat koloni seperti jamur (fungi) berwarna putih.

• Dalam tabung reaksi (media tegak)

Sebelum inokulasi Setelah inkubasi
Hasil : Tidak terdapat koloni pada media NA, tetapi warna yang dihasilkan lebih keruh terhadap media tersebut.
• Dalam tabung reaksi (media miring)

Sebelum inokulasi Setelah inkubasi
Hasil : Tidak terdapat koloni pada media NA, tetapi warna yang dihasilkan lebih keruh terhadap media tersebut.



3. Pada Media Sabouraud Dextrose Agar (SDA)
Proses inkubasi :
Pada suhu

• Dalam cawan petri (media pelat/datar)

Sebelum inokulasi
Hasil : Terdapat koloni seperti jamur (fungi) seperti lumut berwarna putih.

• Dalam tabung reaksi (media tegak)

Sebelum inokulasi
Hasil : Terdapat koloni berbentuk seperti serabut-serabut kapas yang menutupi permukaan media




• Dalam tabung reaksi (media miring)

Sebelum inokulasi
Hasil : Terdapat satu koloni berwarna hijau gelap yang diselimuti rambut-rambut kapas.



BAB V
PEMBAHASAN

Dari hasil yang didapat ada beberapa percobaan yang tidak mencapai
tujuan, yakni membiakkan mikroorganisme.
• Pada percobaan terhadap media MacConkey Agar (MCA) tidak adanya koloni pada media pertumbuhan, hal ini dapat disebabkan oleh beberapa hal.
diantaranya :
- Media MCA yang masih panas dan jarum ose yang terlalu lama diflambir  dapat mematikan mikroorganisme didalam sampel.
- Waktu inkubasi yang kurang lama, karena pada literatur tertulis “mikrobiologi baru dapat diamati setelah inkubasi selama 24-48 jam.”
Pada MacConkey Agar, dapat terdeteksi adanya bakteri E.Coli dengan tanda adanya koloni berwarna merah muda.

• Pada percobaan terhadap media pertumbuhan Nutrient Agar (NA) hanya pada cawan petri koloni terbentuk mikroorganisme berbentuk bulat berwarna putih, sedangkan pada tabung reaksi (media tegak dan miring) tidak ada koloni terbentuk. Kemungkinan media Na yang masih panas dan jarum ose yang terlalu lama di flambir.
• Pada percobaan terhadap media pertumbuhan Saboraud Dextrose Agar (SDA) terdapat spora. Bentuk spora yang timbul pada permukaan media menyerupai serat berwarna putih.



BAB VI
KESIMPULAN


1. Tidak semua media pertumbuhan mikroorganisme memerlukan waktu hasil pengamatan yang sama.
- Pada media NA dan MCA, pertumbuhhan mikroorganisme dapat diamati dalam waktu 1 hari.
- Pada media SDA, pertumbuhan mikroorganisme dapat diamati dalam waktu 4 hari.
2. Pada media NA yang tegak lurus dan miring tidak menghasilkan mikroorganisme dikarenakan media NA yang masih panas dan jarum ose yang terlalu lama diflambir.
3. Pada media NA yang pelat menghasilkan mikroorganisme.
4. Pada media SDA yang tegak lurus, miring, dan pelat menghasilkan mikroorganisme.
5. Pada media MCA yang tegak lurus, miring, dan pelat tidak menghasilkan mikroorganisme dikarenakan media MCA yang masih panas dan jarum ose yang terlalu lama diflambir



DAFTAR PUSTAKA

 Bonang, Gerard & Koeswardono. S. Engar. 1982. Mikrobiologi Kedokteran Untuk Laboratorium dan Klinik. PT.Gramedia : Jakarta
 Dwidjoseputro, D. 1994. Dasar-Dasar Mikrobiologi. Djambatan, Jakarta.
 Ferdias, S., 1992, Mikrobiologi Pangan, Gramedia Pustaka Utama, Jakarta.
 Hadioetomo, R. S. 1993. Teknik dan Prosedur Dasar Laboratorium Mikrobiologi. Gramedia: Jakarta
 Staf Pengajar FK Universitas Indonesia. 1993. Mikrobiologi Kedokteran. Binarupa Aksara : Jakarta.
 Staff pengajar Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 1994. Buku Ajar Mikrobiologi Kedokteran, edisi revisi. Binarupa Aksara : Jakarta.
 Volk & Wheeler, 1990. Mikrobiologi dasar edisi kelima jilid 2. Erlangga : jakarta

0 komentar:

Posting Komentar