Image by FlamingText.com
Image by FlamingText.com

Sabtu, 19 November 2011

Dia


Dia…
Aku benci dengan Dia
Tapi mengapa aku harus benci dengan Dia ?
Sementara Dia tidak membenciku

Aku ingin menghindari Dia
Tapi mengapa aku harus menghindari Dia ?
Sementara Dia tidak menghindariku

Aku ingin dekat dengan Dia
Tapi mengapa aku harus mendekati Dia ?
Sementara Dia tidak mendekatiku

Taman Batin Cinta


Dengar …..

Kau datang menggeluyuti pikiranku
Tatapanmu tak mampu menundukkan kepalaku
Tutur katamu selalu menyejukkan hatiku
Dan tingkahmu seperti melindungiku

Aku sadar
Ternyata tanpa kau sadari
Kau telah memasung hatiku dengan panahmu
Dan aku tak dapat menghindarinya
Karena aku terlanjur jatuh oleh pemasungmu

Aku ingin kau tahu
Taman Batin Cintaku berkata bahwa
Ku puja Kau

Kawan


KAWAN


Kawan . . .
Kala mata pandangi Realita
Segala asa menguak tabir mimpi
Menepis kerikil direlung hati

Kawan . . .
Kala cita tertanam didada
Gairah jiwa menari-nari
Menyebar hingga diujung nadi

Kawan . . .
Mari kita langkahkan kaki
Menuju pojok waktu
Satu cita dituju
Masa depan cerah tentu

Cinta Ibu


CINTA IBU
 
Raut kusamnya tak buat ku jenuh
Kulit kerutnya tak buat ku keluh
Keras sikapnya tak buat ku marah
Prinsip hidupnya tak buat ku lelah

Cinta ibu tak buat ku kalah
Cinta ibu tak buat ku susah
Cinta ibu tak buat ku lemah
Cinta ibu tak buat ku lengah

Cinta ibu tercinta
Wangi surgawi dunia
Cinta ibu tercinta
Ku ingin dekat dengannya

Cinta ibu tercinta
Ku hormati dia
Cinta ibu tercinta
Kaulah segalanya

Si Buah Hati



SI BUAH HATI

Mata si buah hati kerlip menatap bintang
Tak lama kunjung seorang datang
Buah hati terpana menatap tajam
Namun dia balas dengan dendam

Dulu buah hati ingat dia penyemangat
Meski mentari sengat
Ia tetap kuat

Titian waktu berpacu
Zaman hari mulai maju
Seolah timbul sendu
Karena keanehannya yang berpadu

Si buah hati mengadu pada ibu
“Mengapa dia datang dengan dendam padaku ?”
Dan jawaban ibu
“Dia marah pada orang yang tlah melahirkanmu”


Buah hati terdiam tak mengerti
Apa maksud cerita ini
Ingin hatinya mengerti
Namun tetap tak dapat arti


Buah hati henti lari tak dapat arti
Kau pandangi seolah mengerti
Buah hati halau langkah tak peduli
Kau tetap pergi tak tampak diri

Linang air mengalir di tepi buah hati
Bibir kelu tak dapat terucapi
Iris luka seakan tertanam di hati
Tapi kadang buah hati tak tanggapi

Jelang hari
Selintas buah hati mengerti
Tentang kau yang tak mawas diri
Ini di luar kendali

Sungguh pahit si buah hati
Ingat tingkah bapak yang tak berarti
Membuat dia tak sadar diri
Bahwa buah hati tlah benci


Buah hati tak terima
Fikirnya  buta karena dia
Dendam rasuki amarahnya
Hitam selimuti kelembutannya

Sendu menutupi keceriaannya
Ketakutan kuasai dirinya
Terhadap kaum adam dirinya
Lampiaskan  tragedinya

Hingga kembang semakin tumbuh